Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran
Satuan
Pendidikan : Sekolah Dasar (SD)
Kelas
/ Semester : V (Lima) / 2 (Dua)
Mata
Pelajaran : Bahasa Indonesia
Jumlah
Pertemuan : 1 kali pertemuan (2 x 35
menit)
A. Standar Kompetensi
7. Membaca
Memahami
teks dengan membaca sekilas, membaca memindai, dan
membaca
cerita anak
B. Kompetensi Dasar
7.1 Membandingkan isi dua teks yang dibaca dengan
membaca sekilas
C. Indikator Pencapaian Kompetensi
·
Peserta didik dapat
membandingkan isi dua teks yang dibaca dengan membaca sekilas
D. Tujuan Pembelajaran
·
Peserta didik dapat
menjelaskan apa yang dimaksud dengan membaca sekilas
·
Peserta didik
dapat menuliskan perbedaan dan persamaan isi dua teks yang dibaca dengan
membaca sekilas
E. Materi Ajar
1. Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta
digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui
media bahasa tulis.
2. Tarigan membedakan kegiatan membaca dalam jenis
membaca bersuara atau membaca nyaring (oral
reading atau reading aloud) dan
membaca dalam hati (silent reading).
a. Membaca bersuara atau membaca nyaring adalah suatu
aktivitas yang berfungsi sebagai alat bagi guru, murid, atau pun pembaca
bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta memahami
informasi, pikiran, dan perasaan seorang pengarang.
b. Dalam membaca dalam hati, pembaca tidak menggunakan
alat ucap sehingga hanya otak dan mata yang bekerja.
·
Membaca intensif
adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara cermat dan teliti terhadap teks
yang dibaca. Membaca intensif dapat diterapkan dalam upaya mencari informasi
yang bersifat detil.
·
Membaca
ekstensif merupakan teknik membaca dalam hati dimana pembaca dituntut untuk
dapat membaca suatu wacana panjang dalam waktu terbatas. Membaca ekstensif
meliputi membaca survei (survey reading),
membaca sekilas (skimming reading),
dan membaca dangkal (superficial reading).
3. Membaca sekilas (skimming
reading) adalah suatu teknik membaca dengan kecepatan tinggi untuk mencari
hal-hal yang penting atau ide pokok dari suatu bacaan.
F.
Alokasi Waktu
1 kali pertemuan (70 menit)
G. Metode Pembelajaran
1. Ceramah
2. Diskusi kelompok
3. Penugasan
H. Kegiatan Pembelajaran
1. Pendahuluan (10 menit)
a. Salam
b. Bernyanyi
c. Doa
d. Guru memeriksa daftar hadir peserta didik.
e. Guru menyampaikan apersepsi pembelajaran:
“Anak-anak, ada yang suka menonton berita di
televisi?”
f. Guru menginformasikan tujuan pembelajaran.
2. Kegiatan Inti (50 menit)
a. Guru menyampaikan materi belajar mengenai membaca
sekilas sesuai dengan materi ajar.
b. Guru membagi peserta didik menjadi 2 (dua) kelompok.
c. Guru memberikan teks bacaan pada setiap kelompok.
d. Guru meminta peserta didik untuk membaca bacaan yang
telah diberikan dalam waktu 5 menit.
e. Setelah peserta didik selesai membaca, peserta didik
diminta untuk berdiskusi dan menuliskan isi pokok serta perbedaan dari kedua
bacaan tersebut. Kemudian perwakilan dari setiap kelompok membacakan hasil
diskusi di depan kelas.
3. Penutup (10 menit)
a. Guru memberikan soal latihan
b. Guru memberikan refleksi dan tindak lanjut
c. Bernyanyi
d. Doa
e. Salam penutup
I.
Penilaian Hasil
Belajar
a. Penilaian hasil
Teknik penilaian: Tes
1) Apa yang dimaksud dengan membaca sekilas?
Bacalah teks di bawah
ini!
Teks 1
Menaman dengan sistem
Hidroponik terbukti memiliki beberapa kelebihan dibanding sistem konvesional
berkebun dengan tanah. Pada sistem Hidroponik, tingkat pertumbuhan tanaman
hidroponik adalah 30-50 persen lebih cepat dari tanaman menggunakan media
tanah, tumbuh di bawah kondisi yang sama. Hasil tanaman juga lebih besar. Para
ilmuwan percaya bahwa ada beberapa alasan mengapa menanam dengan sistem
hidroponik itu sangat menguntungkan. Selain itu, pasokan oksigen ekstra dalam
media tumbuh hidroponik, sangat membantu untuk merangsang pertumbuhan akar-akar
tanaman. Tanaman yang banyak mengandung oksigen dalam akar juga mampu
menyerap nutrisi lebih cepat. Nutrisi dalam sistem hidroponik yang dicampur
dengan air dan dikirim secara langsung ke sistem akar. Tumbuhan tidak harus
mencari di tanah untuk nutrisi yang dibutuhkan. Nutrisi tanaman akan selalu
terpenuhi dari waktu ke waktu. Tanaman hidroponik sendiri memerlukan sangat
sedikit energi untuk menemukan dan memecah makanan. Tanaman kemudian
menggunakan energi yang disimpan ini untuk tumbuh lebih cepat dan menghasilkan
lebih banyak buah. Tanaman hidroponik juga memiliki lebih sedikit masalah
dengan infestasi bug, fungi dan penyakit. Secara umum, tanaman yang tumbuh
dengan sistem hidroponik adalah tanaman sehat dan tumbuh besar. Berkebun secara
hidroponik juga memberi manfaat bagi lingkungan. Berkebun hidroponik
menggunakan air membutuhkan lahan lebih sedikit dari pada menggunakan media
tanah. Penggunaan pestisida lebih sedikit digunakan pada tanaman hidroponik.
Teks 2
Menurut
literatur, bertanam secara hidroponik telah dimulai ribuan tahun yang lalu.
Diceritakan, ada taman gantung di Babilon dan taman terapung di Cina yang bisa
disebut sebagai contoh Hidroponik. Lebih lanjut diceritakanpula, di Mesir,
India dan Cina, manusia purba sudah kerap menggunakan larutan pupuk organik
untuk memupuk semangka, mentimun dan sayuran lainnya dalam bedengan pasir di
tepi sungai. Cara bertanam seperti ini kemudian disebut river bed
cuultivation. Ketika ahli patologis tanaman menggunakan nutrien khusus
untuk media tanam muncullah istilah nutri culture. Setelah itu,
bermunculan istilah water culture, solution culture dan gravel
bed culture untuk menyebutkan hasil percobaan mereka yang menanam sesuatu
tanpa menggunakan tanah sebagai medianya. Terakhir pada tahun 1936 istilah
hidroponik lahir, istilah ini diberikan untuk hasil dari Dr. WF. Gericke,
seorang agronomis dari Universitas California, USA, berupa tanaman tomat
setinggi 3 meter yang penuh buah dan ditanam dalam bak berisi mineral hasil uji
cobanya. Sejak itu, hidroponik yang berarti hydros adalah air dan ponics untuk
menyebut pengerjaan atau bercocok tanam, dinobatkan untuk menyebut segala
aktivitas bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat tumbuhnya.
Gericke ini menjadi sensasi saat itu, foto dan riwayat kerjanya menjadi
headline surat kabar, bahkan ia sempat dinobatkan menjadi orang berjasa abad
20. Sejak itu, hidroponik tidak lagi sebatas skala laboratorium, tetapi dengan
teknik yang sederhana dapat diterapkan oleh siapa saja termasuk ibu rumah
tangga. Jepang yang kalah dari sekutu dan tanahnya tandus akibat bom atom, pada
tahun 1950 secara gencar menerapkan hidroponik. Kemudian negara lain seperti
irak, Bahrain dan negara-negara penghasil minyak yang tanahnya berupa gurun
pasir dan tandus pun ikut menerapkan hidroponik.
2) Tuliskan isi pokok kedua teks tersebut!
3) Tuliskan persamaan dan perbedaan isi dari kedua teks
tersebut!
b. Pedoman pemberian skor
No.
|
Kriteria
|
Skor
|
1
|
Jawaban
benar
|
30
|
Jawaban
salah
|
0
|
|
2
|
Peserta
didik menjawab isi pokok kedua bacaan dengan benar
|
35
|
Peserta
didik menjawab satu isi pokok dari kedua bacaan dengan benar
|
25
|
|
Jawaban
salah
|
0
|
|
3
|
Peserta
didik menuliskan satu perbedaan dari kedua bacaan
|
25
|
Peserta
didik menuliskan dua perbedaan dari kedua bacaan
|
30
|
|
Peserta
didik menuliskan lebih dari dua perbedaan dari kedua bacaan
|
35
|
|
Jawaban
salah
|
0
|
Nilai akhir = Jumlah skor
J.
Media dan Sumber
Belajar
1. Media belajar
a. Teks bacaan
2. Sumber belajar
Rahayu, Sri. 2009. Bahasa Indonesia Untuk SD / MI Kelas V .Jakarta: Hamudha Prima
Media.
Pontianak, 5 Juni 2017
Mengetahui,
Guru Kelas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar