Laporan Pengamatan
Perkembangan Bahasa Anak Usia 2 tahun
A.
Lokasi
pengamatan : Jalan Let.
Jend. S. Parman, Kel. Sukaharja, Kec. Delta
Pawan,
Ketapang
B.
Tanggal pengamatan : Sabtu, 24 Desember 2016
C.
Waktu pengamatan : Pukul 10.30 – 11.25 WIB
D.
Obyek pengamatan
a. Nama :
Muhammad Khadafi Gunawan
b. Nama panggilan :
Dafi
c. Umur :
2,2 tahun
d. Jenis kelamin :
Laki-laki
E.
Pembahasan
a. Uraian teori
Anak-anak memperoleh komponen-komponen utama bahasa
dari ibunya. Bayi mulai memperoleh bahasa ketika berumur kurang dari satu tahun
sebelum dapat mengucapkan suatu kata.
Adapun fase perkembangan kebahasaan adalah sebagai
berikut.
1. Fase fonologis
Anak bermain dengan bunyi-bunyi bahasa mulai dari
mengoceh sampai menyebut kata-kata sederhana.
2. Fase sintaktik
Anak menunjukkan kesadaran gramatis; berbicara
menggunakan kalimat.
3. Fase semantik
Anak dapat membedakan kata sebagai simbol dan konsep
yang terkandung dalam kata.
Tahapan-tahapan umum perkembangan kemampuan
berbahasa seorang anak, yaitu:
1.
Reflexsive vocalization
Pada usia 0-3 minggu bayi akan mengeluarkan suara
tangisan yang masih berupa refleks. Jadi, bayi menangis bukan karena dia memang
ingin menangis tetapi hal tersebut dilakukan tanpa ia sadari.
2.
Babling
Pada usia lebih dari 3 minggu, ketika bayi merasa
lapar atau tidak nyaman ia akan mengeluarkan suara tangisan. Berbeda dengan
sebelumnya, tangisan yang dikeluarkan telah dapat dibedakan sesuai dengan
keinginan atau perasaan si bayi.
3.
Lalling
Di usia 3 minggu sampai 2 bulan mulai terdengar
suara-suara namun belum jelas. Bayi mulai dapat mendengar pada usia 2 sampai 6
bulan sehingga ia mulai dapat mengucapkan kata dengan suku kata yang
diulang-ulang, seperti ba dan ma.
4.
Echolalia
Di tahap ini, yaitu saat bayi menginjak usia 10
bulan ia mulai meniru suara-suara yang di dengar dari lingkungannya, serta ia
juga akan menggunakan ekspresi wajah atau isyarat tangan ketika ingin meminta
sesuatu.
5.
True speech
Bayi mulai dapat berbicara dengan benar. Saat itu
usianya sekitar 18 bulan atau biasa disebut batita. Namun pengucapannya belum
sempurna seperti orang dewasa.
Ketika bayi mulai dapat mengucapkan beberapa kata,
perkembangan bahasa mereka juga mempunyai ciri-ciri yang universal. Bentuk
ucapan yang digunakan hanya satu kata, kata-katanya sederhana yaitu yang mudah
diucapkan dan memiliki arti konkret. Remaja menggunakan gaya bahasa yang khas
dalam berbahasa, sebagai bagian dari terbentuknya identitas diri.
Lundsteen membagi perkembangan bahasa menjadi 3
tahap, yaitu:
1. Tahap pralinguistik
-
Pada usia 0-3
bulan, bunyinya di dalam dan berasal dari tenggorokan.
-
Pada usia 3-12
bulan, banyak memakai bibir dan langit-langit, misalnya ma, da, ba.
2. Tahap protolinguistik
-
Pada usia 12
bulan sampai 2 tahun, anak sudah mengerti dan sudah dapat menunjukkan
bagian-bagian tubuh. Ia mulai berbicara beberapa patah kata (kosakatanya dapat
mencapai 200-300).
3. Tahap linguistik
-
Pada usia 2-6
tahun atau lebih, pada tahap ini ia mulai belajar tata bahasa dan perkembangan
kosakatanya mencapai 3000.
b. Hasil pengamatan
Dari pengamatan terhadap Dafi, dapat disimpulkan
bahwa anak usia 2 tahun telah mengerti apa maksud dari pembicaraan orang-orang
di sekitarnya. Namun ia masih belum dapat mengucapkan maksud hatinya ke dalam
suatu kata atau kalimat. Kata yang diungkapkan masih berbentuk patahan-patahan
atau kosakata. Misalnya ketika Dafi ditanya “Dafi udah makan?”, maka ia
menjawab “Dah”. Atau ketika ia ditanyai “Ini siapa?”, ia menjawab “Nek”. “Nek”
yang dimaksud disini adalah neneknya Dafi. Dari pengamatan yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa anak usia 2 tahun berada dalam tahap protolinguistik.